NASIONALTRAVELING

Masdjid Syuhada Yockyakarya, Dibangun untuk Mengenang Jasa Pahlawan

MataPublik.co – Bukan lagi suatu peristiwa yang mengherankan bila pihak manajemen Masjid Syuhada Yockyakarta menggelar berbagai kegiatan baik menjelang pergantian tahun Masehi ataupun tahun Hijriyah.

Acara yang disajikan, selian pameran buku-buku Islam juga pengajian akbar serta diskusi seputar keIslaman. Bahkan yang cukup seru biasanya diskusi mengenai perbandingan agama dan seputar kerukunan umat beragama di negeri ini.

Kepala Bagian Administrasi & Kerumahtanggaan Masjid Syuhada Yockyakarta, Suryadi S.Hum, dalam wawancara khusus dengan Assajidin.com, Kamis (4/12-2014)  lelu mengatakan, pihaknya selalu berusaha mengadakan acara perhelatan akbar yang melibatkan masyarakat.

“Masjid Syuhada kan milik masyarakat, tentu kami piak manajemen yang diserahi tugas dan tanggungjawab untuk mengelola dan menjaga serta mengembangkan syiar Islam tentu membuat kegiatan terkait dakwa,”kata Suryadi.

Masjid ini, setiap hari selalu dikunjungi oleh masyarakat baik dalam wilayah Yockyakarta, dan luar daerah maupun dunia. Bahkan keberadaannya dijadikan sebagai pusat studi Islam dalam mengkaji mengenai kerukunan umat beragama. Terutama di kawasan itu berdiri gereja HKBP dan Kasinius, tempat umat kristiani melakukan ibadah.

Tahun lalu katanya pihaknya sempat bekerja sama dengan, Republika Biro Jateng dan DI Yogyakarta (DIY) menggelar bazaar murah, bedah buku dan donor darah di Masjid Syuhada Yogyakarta. Corps Dakwah Masjid Syuhada (CDMS) Yogyakarta, terliat dalam kegiatan-kegiatan semacam ini.Menurutnya, pihaknya juga menggandeng Lembaga Amil Zakat Shodaqoh (Lazis) Masjid Syuhada untuk bazaar sembako murah, tahun lalu. Biasanya setiap tahun berlangsung acar seperti itu.

 Sejarah Berdiri

Masjid Syuhada, didirikan atas dasar landasan  khusus, sebagai Masjid Jami’ untuk memenuhi kebutuhan Umat Islam untuk beribadah kepada Allah. Ini juga  sebagai monumen yang hidup dan bermanfaat untuk memperingati para syuhada (pahlawan yang gugur syahid) yang memperjuangkan kemerdekaan bangsa, mempertahankan kebenaran dan keadilan di wilayah ini.  Pun sebagai tanda mata peninggalan, kenang-kenangan untuk Yogyakarta yang pernahdijadikansebagai ibukota negara, ibukota perjuangan.

Masa penjajahan Belanda, Kotabaru dihuni oleh orang-orang kulit putih, orang-orang Indonesia kelas atas/kaya dan berpendidikan tinggi. Suasana Kotabaru adalah merupakan bagian kota yang modern, bersih, sehat namun sama sekali tiada tempat peribadatan umat Islam.Masa penjajahan Jepang di awal tahun 1942 semua warga kulit putih dan Belanda dipindahkan dari Kotabaru. Rumah-rumah kosong itu lalu ditempati oleh orang-orang Jepang dan sebagian orang-orang Indonesia yang beragama Islam. Saat itu baru muncul kebutuhan suatu tempat ibadah untuk Umat Islam.

Masa kemerdekaan RI warga Kotabaru menjadi terdiri dari anggota-anggota tentara, pemuda, pelajar yang beragama muslim. Kebutuhan akan tempat ibadah Umat Islam semakin terasa.Diakhir tahun 1949, saat Ibu Kota RI di Yogyakarta berlangsung perundingan antara delegasi Indonesia dan Belanda di Gravenhage Belanda. Muncul bayangan pemikiran akan kembalinya Ibu Kota RI dari Yogyakarta ke kota metropolis Jakarta. Maka kemudian timbul keinginan adanya suatu peninggalan, tanda mata dan peringatan untuk Yogyakarta, Ibu Kota perjuangan dan peringatan perjuangan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Bangunan peringatan yang sesuai dengan kesucian perjuangan bangsa Indonesia, bukan patung atau tugu / barang mati, melainkan sebuah Masjid Jami’ yang setiap saat tersirat nuansa kehidupan Umat Islam.

Lihat Juga  Agus Gumiwang Kartasasmita Mendadak Ditunjuk Sebagai Menteri Sosial

14 Oktober 1949; Berdiri Panitia Pendirian Masjid Peringatan Syuhada yang disingkat  menjadi Panitia Masjid Syuhada

  • 17 Agustus 1950; Penetapan garis kiblat Masjid Syuhada oleh KH. Badawi
  • 23 September 1950; Peletakan Batu Pertama oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Selaku Mentri Pertahanaan RI dan Kepala Daerah DIY.
  • 25 Mei 1952; Berdiri Yayasan Asrama  dan Masjid ( YASMA).
  • 20 September 1952; Peresmian Masjid Syuhada.
  • 26 September 1952; Ibadah Sholat Jum’at pertama dengan Imam dan Khatib Muhammad Natsir. Setelah itu Wakil Presiden RI Drs. H.M. Hatta yang baru kembali dari menunaikan Ibadah Haji di Mekkah memberikan ceramahnya di ruang aula/kuliah.
  • 13 September 1953; Menerima sumbangan 24 helai permadani buatan Karachi Pakistan dari rakyat dan pemerintah Pakistan.

Setelah selesai pembangunan Masjid Syuhada kemudian dibentuk panitia pengelolaan dan penanggungjawab pemakmuran masjid selanjutnya Panitia Masjid Syuhada yang dibentuk pada 14 Oktober 1949 berganti nama menjadi Yayasan Asrama dan Masjid Syuhada (YASMA SYUHADA).

Lembaga-lembaga di Masjid Syuhada, Lembaga Pendidikan Formal:      Taman Kanak-kanak Masjid Syuhada (TKMS): ± 200 siswa;Sekolah Dasar Masjid Syuhada (SDMS): ± 600 siswa;    Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMP-IT MS); sejak 2004: ± 100 siswa;  Sekolah Tinggi Agama Islam Masjid Syuhada (STAIMS); terdiridariduaprodiyaitu: Pendidikan Agama Islam (PAI) danKomunikasidanPenyiaran Islam (KPI).

Lembaga Non Formal: Lembaga Pendidikan al-Quran Masjid Syuhada (LPQMS)sejak 1952; menyelenggarakankursusmembaca al-Quran terdiridarikelas: Pemula, Tajwid, MurattaldanSeni Baca;Program RegulerLembaga-lembaga di Masjid Syuhada, juga ada  Studi Islam Efektif,  Kajian Keluarga Sakinah, Pelatihan Kader Da’i, Pendidikan Jurnalistik, Pelatihan Bahasa Asing,Training Ustadz/ah TPA,  PelatihanNasyid, PengembanganMasyarakat melalui dakwah secara efektif.(*)

 Masdjid Raya Kauman Yockyakarta

Mesjid Gedhe Kauman: Masjid Gedhe Kauman Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat) adalah masjid raya Kesultanan Yogyakarta, atau Masjid Besar Yogyakarta, yang terletak di sebelah barat kompleks Alun-alun Utara Kraton Yogyakarta

Lihat Juga  Mayjen TNI Irwan Gantikan Mayjen TNI AM Putranto Sebagai Pangdam Swj II

Masjid Gedhe Kauman dibangun oleh Sri  Sultan Hameng KubuwonoI bersama Kyai Faqih Ibrahim Diponingrat (penghulu kraton pertama) dan Kyai Wiryokusumo sebagai arsiteknya. Masjid ini dibangun pada hari AhadWage, 29 Mei1773 M atau 6 Robi’ul Akhir 1187 H.

 Arsitektur

Kompleks Mesjid Gedhe Kauman dikelilingi oleh suatu dinding yang tinggi. Pintu utama kompleks terdapat di sisi timur dengan konstruksi semar tinandu. Arsitektur bangunan induk berbentuk tajug persegi tertutup dengan atap bertumpang tiga. Untuk masuk ke dalam terdapat pintu utama di sisi timur dan utara. Di sisi dalam bagian barat terdapatmimbar bertingkat tiga yang terbuat dari kayu,migrab (tempat imam memimpin ibadah), dan sebuah bangunan mirip sangkar yang disebut maksura. Pada zamannya (untuk alasan keamanan) di tempat ini sultan melakukan ibadah. Serambi masjid berbentuklima persegi panjang terbuka.

Lantai ruang utama dibuat lebih tinggi dari serambi masjid dan lantai serambi sendiri lebih tinggi dibandingkan dengan halaman masjid. Di sisi utara-timur-selatan serambi terdapat kolam kecil. Pada zaman dahulu kolam ini untuk mencuci kaki orang yang hendak masuk masjid.

Di depan masjid terdapat sebuah halaman yang ditanami pohon tertentu. Di sebelah utara dan selatan halaman (timur laut dan tenggara bangunan masjid raya) terdapat sebuah bangunan yang agak tinggi yang dinamakan pagongan. Pagongan di timur laut masjid disebut dengan Pagongan Ler (Pagongan Utara) dan yang berada di tenggara disebut dengan Pagongan Kidul (Pagongan Selatan). Saat upacara sekaten Pagongan Ler digunakan untuk menempatkan gamelan sekati Kangjeng Kyai (KK) Naga Wilaga dan Pagongan Kidul untuk gamelan sekati KK Guntur Madu.

Di barat daya Pagongan Kidul terdapat pintu untuk masuk kompleks masjid gedhe yang digunakan dalam upacara Jejak Bata pada rangkaian acara Sekaten setiaptahun. Selain itu terdapat Pengulon, tempat tinggal resmi kangjeng kyai pengulu di sebelah utara masjid dan pemakaman tua di sebelah barat masjid.

Masjid ini, ramai dikunjungi wisatawan ataupun masyarakat yang bertepatan melancong ke Yockyakarta. “Saya sempatkan ke sini untuk memahami, bagaimana dulu pengembangan Islam di Kraton dan masyarakat Yockyakarta,”ujar Muhammad Syafi’i, seorang pengunjung kepada As SAJIDIN. Ia berharap pelestarian cagar budaya Islam ini tetap terjaga, karena terkait dengan pelestarian budaya Islam di negeri ini.(*)

 

 

 

 

 

 

Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close