Uncategorized

GT Terduga Teroris ini Berstatus PNS

Masih penyelidikan. Barang bukti masih didata. Tapi, memang tidak ditemukan bahan peledak

MataPublik.co, PROBOLINGGO-

Empat terduga teroris di Probolinggo, Jatim ditangkap Densus 88 Antiteror Mabes Polri, Selasa (29/5) malam. Uniknya salah satu terduga adalah GT (54), yang berstatus PNS di Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Probolinggo. Tiga lainnya pria asal Maron yang merupakan saudara kandung.

Mereka adalah KM (52) dan KS (42) yang tinggal di Desa Wonorejo, Kecamatan Maron. Kemudian BH (49), warga Desa Pegalangan Kidul, juga Kecamatan Maron. Sesaudara, mereka berdelapan. Namun, hanya 3 orang itu yang dikenal nyeleneh alias berbeda dengan saudara atau warga kebanyakan.

Usai melakukan penangkapan,  Densus 88/AT dan Polres Probolinggo Kota melakukan penggeledahan di rumah ketiga terduga. Penggeledahan dilakukan sekitar pukul 09.15. Seperti biasa, polisi melakukan sterilisasi akses menuju rumah ketiga terduga.

Rumah terduga yang pertama kali didatangi untuk digeledah yakni kediaman KS. Pantauan Jawa Pos Radar Bromo, tidak ditemukan bahan peledak atau senjata tajam yang diamankan petugas di rumah KS. Polisi hanya membawa sejumlah barang bukti yang dibungkus plastik bening.

Gatot, perangkat Desa Wonorejo juga memastikan bahwa barang bukti yang diamankan tidak ada senjata tajam. Seperti kayu, paralon, baterai HP, STNK, dan gagang senapan angin.

“Masih penyelidikan. Barang bukti masih didata. Tapi, memang tidak ditemukan bahan peledak. Hanya barang yang diduga untuk merakit senapan angin,” katanya.

Selama ini, aktivitas ketiganya yang dianggap berbeda dengan warga kebanyakan, sempat membuat heran. Apalagi, ketiganya dikenal individual. Belum lagi tudingan bahwa keluarga ketiga orang itu enggan mengikuti program pemerintah. Misalnya imunisasi.

Saat polisi melakukan penggeledahan kemarin, hampir tidak terlihat aktivitas berarti di rumah ketiganya. Istri dan anak-anak mereka diungsikan ke rumah kerabat terdekat.

Mat, warga sekitar rumah terduga teroris mengaku, dirinya tinggal bersampingan dengan KM selama bertahun-tahun, namun hanya dua kali ngobrol dengannya.

Bahkan, tidak pernah berkumpul dengan warga. “Banyak warga yang tahu kalau kebiasan KM itu keluar malam dan pulang Subuh. Biasanya bareng dengan BH dan KS,” katanya.

Syaifuddin Zuhri, kades Wonorejo mengatakan, warga dan termasuk dirinya tidak terlalu mengenal sosok KM dan keluarganya. “Saya tahunya kerjanya tukang las cat mobil itu. Tidak ada yang dekat dengan dia,” katanya.

Kades Pegalangan Kidul Badrul Huda saat ditemui di rumah BH mengungkapkan, selama ini keluarga BH anti dengan program pemerintah. Program Dinas Kesehatan (Dinkes) seperti imunisasi ditolak. “Alasannya, imunisasi itu dibuat untuk merusak keturunan umat Islam,” jelasnya.

Halil, mertua BH mengaku sudah lama dan sering mengingatkan menantunya. Kurangnya bersosialisasi dengan warga, membuat Halil heran. Terlebih, anaknya yang menjadi istri BH, juga ikut-ikutan sang suami.

“Kalau sudah begini, yang kasihan istri dan anaknya. Sekarang istri dan anaknya numpang di rumah samping. Karena rumah BH tidak boleh dimasuki,” terangnya. (mas/rf/dom)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close