OPINI

Ingin Anak Pintar, Tapi Dipaksa

*Ira Adelina M.Psi*, psikolog dari Universitas Maranatha Jakarta, sangat tidak merekomendasikan adanya pemaksaan belajar terhadap anak

Oleh: Bangun Lubis

ANAK – Tentu semua orang tua ingin anaknya pintar. Namun terkadang, cara yang ditempuh kurang tepat. Misalnya, menekan anak untuk belajar. Apa kata psikolog tentang masalah ini?

Tidak ada keinginan dari seorang IBu dan Ayah untuk membiarkan ank-anaknya tidak memiliki kecerdasan dan kepintaran. Tetapi hendaklah dengan cara yang smart dan bukan dengan cara memaksakan kehendak orangtua.

Perlu diingat, anak adalah anugerah terindah sekaligus amanah (titipan) yang Allah berikan kepada setiap orang tua. Oleh karena itu orang tua hendaknya memperhatikan kebutuhan dan perkembangan anak-anaknya, agar mereka tumbuh menjadi anak yang sehat, baik jasmani maupun rohani, serta barakhlaqul karimah dan  memiliki intelegensi yang tinggi.

Dengan begitu, bukan berarti orang tua dapat serta merta memaksakan kehendak kepada anak. Demi dan atasnama kebahagiaan si anak, orang tua acap kali bersikap diktator dan cenderung mengeeksploitasi anak dengan beragam kegiatan diluar kemampuan anak.

Tentu semua orang tua ingin anaknya pintar. Namun terkadang, cara yang ditempuh kurang tepat. Misalnya, menekan anak untuk belajar. Apa kata psikolog tentang masalah ini?

Seperti disampaikan *Ira Adelina M.Psi*, psikolog dari Universitas Maranatha Jakarta, sangat tidak merekomendasikan adanya pemaksaan belajar terhadap anak. “Pemaksaan itu pasti tidak baik,” ujarnya dalam sebuah acara diskusi di lakukan Yahoo.com belum lama ini.

Apalagi, lanjutnya, tekanan atau pemaksaan dilakukan pada anak yang memasuki masa emas atau golden age, yaitu umur 0-5 tahun. Di usia seperti ini,  memang waktunya anak diberikan dorongan atau stimulus. Namun, jika diberikan berlebihan seperti dengan pemaksaan, tentu bukan cara yang baik.

Lihat Juga  Senyum Yang Membawa Amaliah

Psikolog kelahiran tahun 1981 ini mengingatkan kepada orang tua bahwa anak tidak hanya membutuhkan kecerdasan intelektual. Tapi, kecerdasan sosial dan emosi pun sangat diperlukan. Karena itulah, memberi tekanan secara berlebihan kepada anak untuk belajar sangat tidak tepat.

Kata dia, apabila anak terlalu fokus pada perkembangan intelektual, ia akan mengalami kejomplangan atau ketidakseimbangan dalam pemahaman dan kecerdasan sosial maupun emosi. Alhasil, meskipun kemampuan intelektual sang anak jauh di atas rata-rata, kemampuan bersosialisasi dan emosinya bisa tidak terkontrol. Inilah yang mengganggu psikologis anak. “Dampaknya bisa macam-macam. Ada yang stress, berontak, dan tertekan,” tegasnya.

Dari pengalamannya sebagai psikolog, Ira menuturkan, biasanya orang tua yang melakukan pemaksaan terhadap anaknya untuk belajar lantaran ada rasa khawatir terhadap kemampuan buah hatinya. Orang tua was-was masa depan sang anak menjadi tidak cerah akibat semakin tingginya persaingan di masa depan. Ada pula orang tua yang terlalu percaya dengan kemampuan sang anak. Alhasil, orang tua memaksa sang anak untuk sekolah lebih cepat dan les di bimbel sana dan bimbel sini.

*Jejali Les Tak Baik*

“Biasanya orang tua meminta anak sekolah lebih cepat sementara perkembangan emosi dan sosial anak belum sampai situ,” tuturnya.  Direkomendasikan orang tua memahami dampak buruk terhadap psikologis anak ini jika diberikan tekanan dalam belajar. Jika sudah terlanjur, dia memberikan jalan keluar sebagai proses penyembuhan melalui dua hal.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda di riwayatkan HR. Muslim  yang berbunyi : “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan do’a anak yang sholeh.

Lihat Juga  Perkara yang Terlarang, Kok Diabaikan

*Ustadz Sudirman*, Kepala Sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI) Almalul Khair kepada AsSajidin beberapa waktu lalu mengatakan,  sesungguhnya Islam menganjurkan para orang tua untuk menjadikan anak itu menjadikan anak yang sholeh bukan pintar dunia semata.

Sholeh itu jauh lebih tinggi dari sekedar pintar. Anak yang sholeh bisa menempatkan dirinya antara Imtaq dan Imtek, sementara anak pintar belum tentu bisa keduanya,” ujar Sudirman menjelaskan.

Sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengenai kedudukan anak sholeh sebagai penolong orang tua setelah ia meninggal dunia, kata Sudirman adalah kunci bagaimana sikap orang tua seharusnya kepada anak.

“ Sekarang ini kan banyak, orang tua yang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing  sehingga untuk sekedar menemani anak belajar saja tidak bisa. Untuk menutup hal itu biasanya orang tua menjejali anak berbagai pendidikan untuk mencetaknya menjadi sosok yang diharapkan. Misalnya saja dengan ‘memaksa’ anak belajar membaca, menulis, dan berhitung (calistung) sejak dini. Padahal anak yang pintar tidak serta-merta ditandai kemampuan calistung yang dikuasai oleh si anak,” ungkapnya.

Sudirman menilai, problema keluarga tentang orangtua yang terlalu memaksakan anaknya mengikuti berbagai les tambahan masih sangat banyak  terjadi khususnya di kota-kota besar.  Bahkan sejak masih duduk di sekolah dasar (SD), anak-anak zaman sekarang sudah dijejali dengan seabrek kegiatan ekstrakulikuler di samping tekanan untuk mendapatkan nilai bagus dari mata pelajaran di sekolah. (*)

 

Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lihat Juga

Close
Close