OPINI

Umat Harus Menjadi Subjek dalam Kegiatan Ekonomi, dan Keagamaan

Oleh : AMIDI

(Dosen FE Muhammadiyah dan Pengamat Ekonomi Sumsel)

Dengan semakin maraknya praktik ekonomi sistem kapitalis di negeri ini, maka perkembangan ekonomi tidak bisa dibendung lagi. Kalu dahulu kita hanya mengenal kegiatan ekonomi subsistem atau tradisonal, kini sudah dilakukan dengan cara modern dan  didukung teknologi yang canggih. Dalam berbelanja, selain pasar tradisonal, saat ini kita disuguhkan pasar modern (Mall), yang kini sudah merambah sampai ke Kabupaten.

Memang kita tidak bisa menghindari Mall, karena memang kita butuh dan memang ada  dampak positif – nya terhadap perekonomian, mendorong kegiatan ekonomi lain tumbuh dan mempercepat laju perekonomian. Namun, tidak sedikit dampak negatif yang ditimbulkannya, setidaknya masyarakat menjadi konsumtif dan kehidupan masyarakat semakin “glamor”.

Idealnya kita dapat mengambil manfaat dan memanfaatkannya, namun kebanyakan kita justru hanyut dengan kegiatan ekonomi kapitalis ini. Kehidupan sosial  dan keagamaan kita, terkadang tergeser dari nilai – nilai dan ideologi yang kita anut. Dengan semakin glamor-nya kehidupan ini, maka kita yang dikenal “santun” saat ini mulai terlihat “emosional”, “beringas”, dan mudah “mencaci-maki”.

Belum lagi adanya perkembangan teknologi yang sangat dahsyat saat ini, bila kita tidak mengedepankan ideologi tersebut, nilai – nilai sosial dan keagamaan yang kita anut tergeser oleh kesalahan kita dalam memanfaatkan teknologi tersebut. Saat ini tidak heran kalau dalam satu keluarga sudah tidak saling “bercengkramah” karena sibuk dengan WA, sibuk dengan konten-konten internet. Media teknologi informasi (internet) tersebut lebih cendrung kita gunakan untuk mencaci-maki ketimbang menggali keilmuan dan menebar kebaikan. Penyalah gunaan teknologi ini tidak hanya melanda kaum milinial tetapi melanda semua lapisan, termasuk nenek-kakek pun terkadang latah melakukan “selfi”. Sungguh dahsyat “mahluk yang satu ini” mempengaruhi dan mendorong kita kearah yang cendrung menyesatkan.

Idealnya kita sebagai umat yang mayoritas ini dalam segala hal tidak selamanya menjadi OBJEK, tetapi kita juga harus menjadi SUBJEK. Dalam  kenyataan, saat ini kita cendrung menjadi OBJEK dan cendrung dijadikan OBJEK. Kita menjadi objek praktik kapitalis, kita menjadi objek orang-orang yang AMBISIUS, kita menjadi objek pihak-pihak yang membutuhkan kita demi kepentingan mereka.

Dalam suatu pembukaan  Rakernas LAZISMU (Lembaga Amil Zakat dan Sadaqoh Muhammadiyah) di Yogyakarta beberapa waktu yang lalu, Salah seorang tokoh Muhammadiyah yang sangat bersahaja, dalam  kata sambutannya mensitir bahwa umat ini “mudah diajak rame-rame” (baca:demo/berkumpul/bergerombol), “mudah diajak menghabiskan waktu terbuang percuma”, “mudah diajak untuk mempengaruhi orang lain tanpa dasar yang jelas”.

Lihat Juga  Istighfar, Akan Memberi Jalan Keluar Dari Kesempitan

Menurut hemat saya, memang kalau kita cermati, umat kita akhir-akhir ini cendrung “latah”, ketika ada kegiatan “rame-rame”, semua pada ikut, bahkan kita ulangi/reuni, padahal substansi yang kita akan lakukan dalam kegiatan “reme-rame” tersebut kita sendiri tidak memahaminya. Begitu ada yang mengomentari dari sisi pemikiran positif dan dari pikiran dinamis-nya serta kajian keagammanya mendalam atas kegiatan rame-rame tersebut, kita langsung marah. Sedih, bukan!. Bukankah, agama yang kita anut mengajarkan agar kita santun.

Kita seharusnya kreatif, mengerjakan hal-hal yang positif, dalam al-qur’an surat Jumu’ah  ayat 10 yang artinya  “Apabila telah selesai sholat, maka bertebaranlah kamu dimuka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. Dari ayat ini jelas, bahwa Allah memerintahkan kita harus kreatif, setelah melakukan ibadah sholat, bergegaslah mengerjakan tugas kita sesuai dengan kapasitas kita, sesuai dengan profesi kita, berbegaslah untuk mencari rizki. Bukan untuk membuang waktu, bukan untuk rame-rame dan bukan pula untuk melakukan hal yang mubazir.

Untuk itu, agar umat yang mayoritas ini tidak terjebak dengan politik praktis, tidak terjebak dengan kegiatan mubazir, dan senantiasa dapat menciptakan nilai keekonomian dari setiap gerak langkah kita. Agar kita senantiasa  menjunjung tinggi nilai sosial yang melekat pada diri anak bangsa dan agar kita tetap komitmen dengan nilai keagamaan yang kita anut, maka menurut saya ada beberapa langkah yang harus ditempuh;

Pertama.  Mari kita membiasakan berpikir dinamis, hindari berpikir statis. Umat yang cerdas, adalah umat yang senantiasa mengandalkan pola pikir yang dinamis. Artinya, jika ada suatu permasalahan harus disikapi dengan pola pikir yang dinamis, dengan mengedepankan telaah terlebih dahulu, mencari tahu terlebih dahulu, “apa, mengapa dan bagaimana”, baru kita mengambil sikap, jangan permasalahan disikapi dengan pola pikir yang statis. Jika kita sikapi dengan pola pikir statis, maka yang ada hanya emosi atau menyalah kan orang lain  tanpa dasar dan bisa salah dalam menyikapi permasalahan yang timbul tersebut. Padahal bila kita menyalahkan orang lain dengan menggunakan isyarat telunjuk, maka satu (1)  jari mengarah kepada mereka sedangkan tiga (3) jari mengarah kepada kita. Secara sederhana  mengisayaratkan bahwa, jika kita menyalahkan orang lain, tanpa mengoreksi diri, maka seakan mereka hanya salah satu sedangkan kita seakan mempunyai tiga kesalahan.

Kedua. Mari kita memahami keagamaan secara utuh, jangan sepotong-potong. Jika sepotong-sepotong kita akan cendrung mengarah kepada jalan yang sesat. Padahal, kita diperintahkan untuk meniti jalan yang lurus, jalan yang diridho’i Allah SWT. Semua aktivitas ekonomi, sosial, teknologi, dan semua aktivitas dalam kehidupan ini telah diatur oleh agama yang kita anut. Dalam menjalankan ekonomi, sudah ada dasar yakni “muamalat”, aktivitas ekonomi harus dijalankan dengan  benar dan  menyenangkan (mawaddah wa rohmah), dalam kehidupan sosial-politik, sudah ada tuntutan Rasulullah sejak dahula kalah. Politik itu kata kuncinya adalah bagaimana kita memperjuangkan kebaikan, bagaimana kita memperjuangkan umat dengan kekuatan/kekuasaan politik yang kita miliki tersebut, bukan berpolitk untuk menjadikan umat sebagai OBJEK semata, menjadi umat bulan-bulanan. Kasihan umat  selalu termarjinalkan.

Lihat Juga  Sehelai Baju Bekas

Ketiga.  Mari kita memperkuat  jati diri. Anak bangsa yang mayoritas ini sebenarnya sudah mempunyai jati diri dengan mengamalkan nilai-nilai keagamaan yang kita anut. Namun  jati diri itu terkadang tergerus, manakala kita tidak memahami sesuatu tetapi kita ikut-ikutan melakukannya, manakala kita mengejar kehidupan dengan senantiasa didasari nilai ekonomi semata, tanpa memperhatikan aspek keagamaan, halal atau haram, boleh atau tidak, baik atau buruk, meresahkan atau tidak, ini semua kita abaikan.

Keempat. Mari kita senanatiasa mendahulukan prasangka baik (husnudzon) dan menyingkirkan perasaan berperasangka jelek (suudzon). “ Dalam Al-qur’an Allah berfirman, “ Hai orang-oarang yang beriman, jauhlilah kebanyakan prasangka (kecurigaan). Sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa, dan janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. “ (QS. Al-Hujurat;12)

Terakhir,  mari kita merenung, masih banyak pekerjaan yang harus kita lakukan dalam memperbaiki tatanan kehidupan kita, kita harus memperbaiki kesejahteraan  kita agar kita tidak menjadi bulan-bulanan orang yang ambisius, kita harus memperkuat dan meningkatkan iman kita, yang cendrung turun-naik akibat kehidupan yang semakin glamor, kita harus memiliki ideologi agar kita punya jati diri yang kokoh, kita harus menghindari caci maki, karena  agama yang kita anut bahkan agama lain pun  mengajarkan agar  umatnya santun dan agar umat-nya tidak memaksakan kehendak. Selamat Berjuang Bung !!!!!

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close