PALEMBANG

Indikator Penyebab Kebanjiran di Kota Palembang

MataPublik.co  — Perubahan musim kemarau kemusim penghujan menjadi menakutkan bagi warga kota Palembang. Lantaran perubahan musim ini menghantui warga sudah sejak lama ketika pergantian musim terjadi.

Musim hujan berlangsung dari bulan Oktober sampai dengan bulan Februari. Maka tidak menutup kemungkinan pada rentan waktu tersebut banyak daerah yang tergenang banjir, salah satunya kota  Palembang. Kota Palembang yang memiliki kepadatan penduduk yang cukup tinggi menjadi salah satu indikator penyebabnya kebanjiran.

Intensitas hujan yang berlangsung antara bulan Oktober sampai dengan bulan Februari menjadi desas-desus yang hebat bagi warga kota Palembang lantara pada rentan waktu yang cukup panjang ini, warga Palembang mengalami kekhawatiran yang tinggi karena kota Palembang sendiri rawan akan bencana kebanjiran.

Peristiwa ini bukan tanpa sebab, dengan banyaknya warga yang bermukim di bantaran alairan sungai menjadi penghambat lajunya derasnya air yang mengalir, ditambah dengan banyaknya warga yang belum memiliki kesadaran akan dampak negatif dari pembuangan sampah yang sembarangan.

Palembang juga sedang mengalami transisi pembangunan, salah satunya proyek pembangunannya adalah Light Rail Transit (LRT) yang otomatis mempunyai kotoran atau sampah sisa pembangunan yang mengendap sehingga menyebabkan aliran selokan tersumbat. Hal demikian diakui pula oleh General Manager Operasional Waskita Karya LRT Sumsel, Bambang Priambodo dalam rapat koordinasi penanganan banjir di sepanjang jalur Light Rail Transit (LRT) Sumsel di rumah dinas Wali Kota Palembang.

Adapun faktor lain yang menjadi penyebab terjadinya kebanjiran di kota Palembang, yaitu: kurangnya kolam retensi air yang tersedia. Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi Sumsel Syamsul Bahri menjelaskan, saat ini kota Palembang hanya memiliki sebanyak 25 kolam retensi air. “Namun jumlah tersebut masih belum mencukupi, idealnya untuk kota Palembang sendiri membutuhkan sekitar 75 kolam retensi air”, ujarnya.

Keadaan musim hujan tidak bisa dihindari oleh kota Palembang sendiri. Akan tetapi, sikap pencegahan agar bencana kebanjiran karena musim hujan tentu bisa ditanggulangi. Kesadaran dari setiap warga akan pentingnya membuang sampah pada tempatnya menjadi sikap yang harus diteladani. Banyaknya sampah yang beredar dilingkungan, terutama pada aliran sungai ataupun selokan menyebabkan tersumbatnya aliran sungai tersebut, sehingga menghambat aliran air yang melintas dan meyebabkan bertambahnya debit air yang tergenang.

Adapun sikap dari Pemerintah kota Palembang yang seharusnya menyisipkan program kerja yang memperhatikan lingkungan kerjanya. Penambahan retensi air yang masih belum optimal menjadi hal yang perlu atensi Pemerintah kota Palembang. Pengoptimalan kuantitas retensi air akan mengurangi debit air yang tergenang di pemukiman warga ketika turun hujan. Banyaknya retensi air yang akan tersebar di kota Palembang tentu akan meminimalisir titik kebanjiran di kota Palemabang.

Pembuatan regulasi yang memberikan konsekuensi terhadap warga yang membuang sampah sembarangan, dirasa juga efektif untuk mengurangi pembuangan sampah yang bukan pada tempatnya. Peran pemerintah dalam menanggulangi bencana banjir yang terjadi di kota Palembang tentu tidak akan maksimal jika warganya sendiri tidak memiliki atensi terhadap kebijakan ataupun regulasi yang di buat pemerintah kota Palembang dalam menanggulangi bencana banjir. Perlu adanya satu kesatuan yang terjalin antara Pemerintah kota Palembang dan waganya agar bencana banjir musiman ini tidak terus belangsung.

penulis : Herliansyah

(Mahasiswa UIN RF Palembang dan BGH Sinergi Sriwijaya)

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close