LIFESTYLEWISATA

Tren Wisata 2019, Terpengaruh Harga Tiket Pesawat hingga Dampak Medsos

Kabar baik baru saja datang dari industri penerbangan Tanah Air, yaitu harga tiket pesawat yang kembali ‘normal.’ Ini jadi pertanda bagus untuk industri pariwisata Indonesia, terutama bagi turis domestik.

MATAPUBLIK.co, JAKARTA — Kabar baik baru saja datang dari industri penerbangan Tanah Air, yaitu harga tiket pesawat yang kembali ‘normal.’ Ini jadi pertanda bagus untuk industri pariwisata Indonesia, terutama bagi turis domestik.

Namun, harga tiket pesawat yang terjangkau saja tentu tidak cukup untuk mendorong industri turisme agar tumbuh lebih baik di tahun ini. Ada banyak faktor yang bakal berpengaruh, termasuk ancaman bencana dan kondisi politik.

Indonesia sendiri menargetkan 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara (Wisman) dengan devisa yang dapat diraup mencapai US$20 miliar. Tahun lalu pemerintah menargetkan jumlah kunjungan wisman mencapai 17 juta.

Sementara itu, destinasi utama pariwisata Tanah Air tahun ini diperkirakan belum banyak berubah. Bali dan Lombok menjadi andalan menarik turis asing, walaupun dihantui ancaman bencana alam seperti gempa dan letusan Gunung Agung.

Namun, di luar itu, pembangunan infrastruktur seperti Tol Trans Jawa bakal meningkatkan arus turisme lokal. Jalur bebas hambatan ini jadi katalisator penting pengembangan wisata di Jawa.

Selain infrastruktur, media sosial juga ambil peran. Para traveler yang membuat konten via media sosial sering jadi panutan ketika akan mengunjungi suatu destinasi wisata. Informasi awal biasanya sangat menentukan ke mana orang akan piknik.

Peran media sosial dalam mendorong pertumbuhan pariwisata tak bisa diremehkan karena menjadi pintu pertama sebelum turis benar-benar sampai di lokasi; informasi. Bukan sekadar murah, tapi juga paling mudah diakses.

Para traveler yang membuat konten via media sosial sering jadi panutan ketika akan mengunjungi suatu destinasi wisata. Informasi awal biasanya sangat menentukan ke mana orang akan piknik.

Maka, beruntunglah tempat-tempat wisata yang kini populer berkat media sosial. Dan tren ini diperkirakan masih akan terus terjadi pada tahun ini. Apalagi, pengguna media sosial bukanlah dominasi kaum milenial semata. Generasi lebih tua kini juga banyak bermain media sosial.

“Kalau untuk tren, yang jelas sekarang ini sosial media lagi marak. Trennya orang bepergian ke tempat yang banyak berasal dari konten-konten di sosial media sehingga pengembangan destinasi wisata melalui sosmed akan semakin marak,” ujar penulis buku serial The Naked Traveler, Trinity.

Kian hari kian biasa orang berwisata demi mendapat foto yang Instagramable. Tren ini dibaca dengan baik oleh perusahaan yang behubungan dengan pariwisata, menggencarkan foto-foto bagus di media sosial yang membuat orang ingin berkunjung.

Perempuan yang aslinya bernama Perucha Hutagaol itu mengakui bahwa Indonesia dengan segala pesona alam dan budaya seperti tak ada habisnya dieksplorasi. Tiap daerah, lanjutnya, punya cerita, bahasa, dan adat sendiri-sendiri.

Wajar jika kemudian ada ekspektasi tinggi pada pertumbuhan pariwisata dalam negeri. Apalagi, berbagai pengembangan infrastruktur yang telah berjalan beberapa tahun terakhir bakal menjadi katalisator penting pertumbuhan industri ini.

Meski terdengar mainstream, traveler Riyanni Djangkaru menyebut Pulau Bali sebagai tempat favorit. Mantan presenter program televisi Jejak Petualang ini meyakini bahwa Bali selalu punya tempat baru untuk dikunjungi.

“Saya sudah pindah ke sini [Bali] selama 8 bulan. Dan selama ini, setiap kali selalu ada saja tempat-tempat baru. Ternyata Sanur tidak hanya sunrise, ternyata ada juga spot sunset,” ujar perempuan berdarah Sunda dan Komering Sumatra Selatan ini.

Riyanni bercerita, di Bali, masing-masing desa adat dan satu pura dengan pura yang lain memiliki cerita berbeda-beda. Bahkan ia baru tahu bahwa di dekat rumahnya ada prasasti paling tua di Bali. Alasan lain kenapa Bali jadi tempat yang menarik adalah aksesnya yang mudah.

Sebelum berwisata, Riyanni menyarankan untuk melakukan riset. Baginya, sejarah dan cerita suatu daerah itu penting untuk digali dan menangkap konteks yang lebih luas daripada sekadar berfoto-foto.

Walaupun turisme sedang digenjot oleh pemerintah, Riyanni menyarankan tetap ada upaya membatasi jumlah kunjungan wisatawan ke tempat tertentu, seperti taman nasional dan tempat menyelam. Kelebihan kapasitas tampung dapat menggerus kualitas destinasi.

“Saya rasa pemerintah harus punya mapping yang lebih tajam mana yang special interest tourism dan destinasi yang tidak terlalu mahal namun dapat banyak dikunjungi orang. Sedangkan yang spesial tourism, kenapa tidak tempatnya dijaga lebih baik tetapi harganya mahal. Jangan semuanya dihajar volume,” katanya.

Target pemerintah tahun ini memang tinggi, yaitu 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dengan pemasukan devisa negara hingga US$20 miliar. Namun, target tersebut dinilai cukup riskan jika suatu waktu biaya angkutan udara domestik naik lagi.

Ketua Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Asnawi Bahar mengatakan salah satu faktor yang menjadi tantangan cukup berarti adalah biaya angkutan udara yang membengkak. Hal ini mempengaruhi kondisi berlibur wisatawan.

Dengan tingginya harga angkutan pesawat terbang, beberapa perubahan akan dilakukan oleh wisatawan seperti mengurangi durasi berlibur, menurunkan kelas penginapan dan mengeluarkan belanja oleh-oleh lebih sedikit dibandingkan biasanya. Kondisi ini akan mempengaruhi para penjaja oleh-oleh di seluruh daerah.

Aspek paling dikhawatirkan adalah berubahnya tujuan wisata masyarakat ke luar negeri. Asnawi memperkirakan tahun ini wisatawan dalam negeri akan mempertimbangkan untuk liburan ke luar negeri karena harga tiket lebih murah atau minimal sama. Karena itu, dia mengharapkan pemerintah merespon kondisi ini dengan bijak khususnya Kementerian BUMN, Kementerian Perhubungan dan Kementerian Pariwisata.

Seruan Asita dan masyarakat ini pun kemudian direspons pemerintah yang meminta maskapai penerbangan menurunkan harga tiket. Terbukti, kini harga kembali normal.

Sumber : bisnis.com

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close