POLITIK

Pemilu 2019, Ajak Mahasiswa Aktif Menangkal Hoax

MataPublik.co, PALEMBANG – Bentuk penyebaran berita hoax yang paling banyak diterima masyarakat adalah dalam bentuk tulisan, dengan melalui saluran berbagai media komunikasi cetak maupun online. Jenis penyebaran hoax yang sering diterima 91,80 persen adalah tentang sosial politik.

Hal ini dijelaskan oleh Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Sumsel yang diwakili Kabid PKP Imansyah SE MM saat menjadi narasumber dalam acara sosialisasi dan deklarasi mahasiswa antihoax dengan tema “Peran Mahasiswa Milenial dalam Menangkal Hoax” di Fakultas Adab UIN Raden Fatah, Selasa, (9/4/2019).

“Media sosial mempengaruhi pilihan pemilih muda dalam pemilu. Karena Saluran penyebaran berita hoax 92,40% berasal dari media sosial,” kata Imansyah. Hal ini karena pemilih muda cenderung memaksimalkan media sosial untuk mengunjungi halaman online partai atau tokoh politik pilihan mereka.

Hoax bertujuan untuk  menipu atau mengakali pembaca maupun pendengarnya dengan memberikan informasi agar dipercayai. Hoax dapat mengecoh perhatian dan mendoktrin para pembaca. Biasanya berita hoax cenderung terdapat di dunia maya terutama terdapat pada situs/ website dan media-media sosial yang mengatas namakan media-media pemberitaan.

Oleh karena itu, Ia mengajak para mahasiswa untuk cerdas dalam mengenali hoax. Ada beberapa cara untuk mengenali hoax. Periksa alamat url atau website agar terverifikasi kredibelitasnya. Periksa halaman tentang situs website yang menampilkan informasi tersebut.

Periksa adakah kalimat yang menyuruh pembaca untuk membagikan pesan tersebut. Kemudian cross check cari di google tema berita spesifik yang ingin di cek. Dan cek kebenaran gambarnya di google image.

“Kita harus kritis menyikapi hoax karena hoax sangat mudah dipercaya. Hoax seringkali diartikan sebagai berita bohong yang sengaja disebar untuk dipercayai oleh orang banyak,” ungkapnya.

Ada beberapa alasan penyebab hoax mudah dipercayai, yaitu karena keterbatasan informasi, tingkat popularitas informasi, ketertarikan, dan hoax yang berkaitan dengan hal yang dipercayai sehingga kebohongan tersebut akan lebih diterima. “Pemberitaan yang terus menerus dan mencolok dapat menyebabkan tertutupnya kebenaran,” ucapnya.

Ia menginformasikan bahwa masyarakat dapat melakukan pengaduan berita hoax. Berita hoax berupa konten negatif di media sosial seperti berita bohong, pornografi, ujaran kebencian, perjudian, narkoba, penipuan, radikalisme atau terorisme  dan malware.

Masyarakat dapat melakukan pengaduan dengan cara screen capture atau url link dan kirim ke website aduankonten.id, pengiriman email di aduankonten@mail.kominfo.go.id atau pesan whatsapp 08119224545.

Sementara itu, Ketua BEM UIN Raden Fatah Rudianto Widodo mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui bahaya berita hoax dan dampak negatif dan positif dari hoax. “Kita meyakini kebanyakan hal-hal negatif kebanyakan berasal dari hoax, sehingga kita perlu untuk cerdas dalam menanggulangi penyebaran hoax,” ungkapnya.

Ia berharap kegiatan ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa untuk meningkatkan perannya dalam  menangkal hoax dan mengimplementasikan materi dari FGD ini. Acara ini dihadiri kurang lebih 100 mahasiswa UIN Raden Fatah. Disampaikan dalam bentuk Forum Grup Diskusi (FGD) dengan Tema “Sosialisasi Anti Hoax Menjelang Pemilu 2019”. (iuy)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close