POLITIK

Gajah dan Kuda Antar Surat Suara ke Pelosok Tanah Air

MataPublik.co, PAPUA –  Dari proses pengiriman kotak dan surat suara menggunakan gajah di Sumatera sampai menjaga keamanan pemilih yang datang ke TPS di Papua, Indonesia melakukan berbagai cara agar pemilihan suara pada Rabu (17/4) berjalan lancar di setiap jengkal kawasannya.

Pada Rabu esok, sebanyak 190 juta pemilih di negara mayoritas Muslim ini akan menggunakan hak suaranya. Durasinya hanya delapan jam. Ancaman kecurangan tentu saja membayangi.

Pemilihan anggota legislatif dan presiden akan berlangsung selama satu hari di negara demokrasi terbesar ke-tiga setelah India dan Amerika Serikat ini. “Ini adalah negara besar, jadi kami berusaha sebaik-baiknya,” kata Arief Budiman, Ketua KPU Pusat, kepada wartawan. “Kami sangat sibuk tahun ini,” lanjutnya.

Bukan cuma Arief yang sibuk menjawab pertanyaan wartawan demi pemberitaan pemilu. Seluruh stafnya yang berada di pelosok Indonesia telah melakukan berbagai cara untuk menyukseskan masa pencoblosan.

Menggunakan hewan berkaki empat, sepeda motor, speedboat, sampai pesawat telah dilakukan KPU. Tugas mengantar kotak dan surat suara ke pelosok Indonesia tak hanya dibantu oleh masyarakat lokal, namun juga pihak kepolisian.

Tak terkecuali ke pedalaman hutan tempat tinggal berbagai suku asli Indonesia. Bukan cuma gajah yang menjadi alat transportasi kotak dan surat suara. Kuda juga digunakan untuk menjangkau tempat terpencil di selatan Pulau Jawa.

“Jalannya berlumpur saat musim hujan, jadi kami menggunakan kuda sebagai alat transportasi ke sana,” kata Suhartanto, polisi yang memimpin pengiriman kotak dan surat suara ke Desa Tempurejo.

Kotak surat suara, yang berbahan besi namun ringan, telah digunakan dalam pemilu sebelumnya. Budiman mengatakan kalau kotak itu memang tahan lama asal tidak terendam banjir.

Gudang KPU memang sempat terendam banjir pada beberapa waktu yang lalu. Saat ini seluruh kotak surat suara dibungkus oleh plastik agar sampai tanpa kekurangan di lokasi pemungutan suara.

Sebanyak 800 ribu TPS akan disambangi penduduk Indonesia esok hari. Tak terkecuali di kawasan timur Papua, yang lama dihantui aksi pemberontakan separatis. Polisi akan menjaga TPS di kawasan pegunungan itu dengan lebih ketat. Rencana itu mendapat dukungan pemerintah pusat, terutama setelah pembantaian selusin karyawan perusahaan kontraktor pada Desember tahun lalu.

Keributan juga terjadi pada proses pengiriman kotak dan surat suara pilkada tahun lalu, yang mengakibatkan tewasnya sejumlah polisi dan staf KPU. Namun kelompok bersenjata bukan satu-satunya kekhawatiran dalam menggelar pemilu di kawasan yang berbatasan dengan Papua Nugini ini.

Pemilih di sejumlah wilayah Papua menggunakan sistem pemungutan suara komunal yang disebut noken, di mana suara kepala desa mewakili penduduknya. Noken seakan menjadi kebiasaan yang sulit diubah di saat pemerintah pusat ingin pemilu digelar secara langsung. Noken juga rawan tindak kecurangan.

“Biasanya pemilih mencoblos orang yang berasal dari mereka atau keluarga mereka,” kata ketua KPU Papua, Theodorus Kossay. “Dan seringnya jumlah suara yang masuk berbeda dengan jumlah pemilih yang diwakilkan. Hal itu merupakan sebuah kecurangan,” lanjutnya.

Melatih karyawan yang baru pertama kali bekerja untuk KPU juga menjadi tantangan tersendiri dalam pemilu tahun ini. “Melatih mereka menjadi tantangan terbesar kami. Mereka harus membuat pemilih merasa percaya hak suaranya tidak dicurangi,” kata Budiman.

KPU telah merilis aplikasi pemilu untuk pengguna telepon genggam. Dari aplikasi ini, seluruh pemilih–terutama kaum millennial–bisa mengetahui lebih lanjut mengenai sistem pemungutan suara.

KPU juga mengaku mendapat serangan siber dan peretasan terkait pemilu. Beberapa serangan disebut berasal dari Rusia dan China, meski Budiman tak menjelaskan lebih lanjut mengenai pelakunya. “Mereka bisa saja dari dalam negeri atau luar negeri. Tapi kami berusaha menanganinya,” pungkasnya. (jhg)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close