HEALTH

Akibat Kandungan Asbes, Bedak Bayi Johnson and Johnson Ditarik

MataPublik.co, JAKARTA – Produsen bedak bayi Johnson & Johnson memutuskan menarik produknya dari pasaran Amerika mulai Jumat (18/10) kemarin. Hal ini setelah Food and Drug Administration (FDA) menemukan adanya kandungan asbes pada produk bedak bayi ikonik ini yang dapat memicu kanker ovarium dan jenis kanker lainnya.

Temuan kandungan asbes ini membuat konsumen di Amerika melakukan protes keras. Selain itu ribuan gugatan hukum didaftarkan ke pengadilan karena merasa dirugikan oleh perusahaan.

Apa sebenarnya bahaya asbes bagi tubuh manusia? Sejak lama, badan kesehatan dunia atau WHO melarang penggunaan asbes dalam berbagai bentuknya. WHO menyebutkan semua jenis asbes merupakan bahan karsinogenik atau penyebab kanker.

 Mengutip laman Indonesia Ban Asbestos (INA-BAN), chrysotile atau asbes putih terbukti mengakibatkan asbestosis, kanker paru, mesothelioma dan kanker laring dan ovarium (IPCS, 1998; WTO, 2001; IARC, 2012; WHO, 2014; Collegium Ramazzini, 2015).

Asbestosis

Penyakit ini terjadi karena munculnya jaringan parut di bagian paru-paru sehingga mengganggu pernafasan. Penderita akan mengalami sesak nafas, serta ikatan oksigen dengan darah menjadi terganggu.

Selain sesak nafas, penderita juga nafsu makannya menurun, sakit di bagian dada, serta jika bernafas akan timbul suara yang mengganggu.

Kanker Paru

Asbes juga menjadi salah satu penyebab terjadinya kanker paru-paru. Serat asbes akan mengendap pada bronchiolus atau dinding saluran pernafasan dan lama kelamaan akan menyebar ke daerah lainnya.

Periode latensi antara paparan dan perkembangan kanker paru-paru adalah 20 sampai 30 tahun. Diperkirakan bahwa 3% -8% dari semua kanker paru-paru berhubungan dengan asbes.

Gejala kanker paru meliputi batuk kronis, nyeri dada, sesak napas, hemoptisis (batuk darah), mengi atau suara serak, penurunan berat badan dan kelelahan. Prognosis umumnya buruk kecuali kanker terdeteksi pada tahap awal. Dari semua pasien yang didiagnosis dengan kanker paru-paru, hanya 15% yang bertahan selama lima tahun setelah diagnosis.

Mesothelioma

Mesothelioma ganas adalah kanker agresif dan tidak dapat disembuhkan. Mesothelioma memiliki prognosis yang buruk, dengan kebanyakan pasien meninggal dalam jangka waktu 1 tahun setelah diagnosis.

Hal ini disebabkan oleh asbes yang timbul dari sel mesothelial pleura (lapisan paru-paru), peritoneum (lapisan rongga perut) dan jarang di tempat lain. Pleural mesothelioma adalah jenis mesothelioma yang paling umum, mewakili sekitar 75 persen kasus. Peritoneal mesothelioma adalah tipe kedua yang paling umum, terdiri dari sekitar 10 sampai 20 persen kasus. Mesothelioma muncul dari 20 sampai 50 tahun setelah paparan awal asbes.

Kanker laring

Kanker laring terjadi karena munculnya tumor ganas pada laring, yaitu bagian dari saluran pernapasan, tempat di mana pita suara berada, yang terletak setelah tenggorokan dan sebelum trakea.

Salah satu gejalanya berupa suara serak, kesulitan bernapas, dan sakit tenggorokan. Jika penderita sudah akut maka diperlukan tindakan pengangkatan laring yang akan mengganggu penderita bernapas, juga ada lubang di leher untuk membantu pernafasan.

Kanker ovarium

Kanker ini susah dideteksi pada tahap awal. Karena baru bisa dideteksi pada stadium lanjut maka kanker ini sangat berbahaya, khususnya bagi wanita. Hal ini karena kanker ovarium menyerang sel jaringan indung telur.

Sementara itu, dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Indonesia Ban Asestos bersama Wahana Lingkungan dan Hidup (Walhi) Jawa Barat, di Kantor Walhi Jawa Barat, Jalan Cikutra Baru X, Bandung, Senin (18/12/2017). Salah satu tim advokat dan jaringan INA-BAN, Firman Budiawan menyatakan bahwa setiap tahunnya sekitar 90 ribu penduduk di seluruh dunia meninggal dunia akibat penyakit yang berhubungan dengan asbes .

“Saat ini ada 65 negara yang melarang secara keseluruhan atau secara parsial penggunaan asbes. Seperti kanada secara tegas melarang penggunaan asbes di negaranya, tapi karena Kanada punya tambang Asbes disana jadi dia masih menambang dan mengekspor ke luar negara, namun di negaranya ia menyatakan bahwa asbes tersebut berbahaya,” kata Firman.

Merujuk Internasional Trade Center (Intracen, 2017) nilai impor asbestos Indonesia berada pada posisi kedua tertinggi setelah India. Sementara lembaga lain seperti Mesothelioma Center (2013) menempatkan Indonesia pada posisi ketiga setelah India dan Cina dalam hal jumlah asbestos di impornya. Total impor asbestos Indonesia mencapai 1.268.577 metriks Ton dari tahun 2007-2017 (BPS). (epp)

 

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close