NASIONAL

Kemitraan Circular Model, GGF Membangun Efek Domino Strategis dan Berdaya Saing Global

SEJAK berdiri lebih 20 tahun silam, Great Giant Food (GGF) bukan hanya membangun industri konvensional yang mengedepankan orientasi laba semata. Namun lebih jauh dari itu, GGF membangun pola Circular Model yang berkelanjutan.

Di era modern ini, disamping lingkungan, isu kemitraan menjadi topik yang selalu menjadi parameter apakah perusahaan tersebut mempunyai daya saing unggul sekaligus brand perusahaan menjadi top of mind dimata publik.

Dari satu sisi, kemitraan strategis dilakukan perusahaan untuk mengatasi kekurangan sumber daya yang dimiliki. Sebuah kemitraan strategis yang ideal adalah membangun hubungan simbiosis mutualisme dengan saling berbagi sumber daya.

Masing-masing pihak yang terlibat dalam kemitraan strategis mengharapkan peningkatan kinerja bisnis. Hal ini yang terus dikembangkan oleh Great Giant Food (GGF) yang mempunyai tagline berkembang bersama.

Kesaksian Sarjono Ketua Kelompok Limousin Astomulyo Punggur, menjadi salah satu bukti, bagaimana GGF dan perusahaan turunannya telah menjalin kemitraan dengan masyarakat sekitar.

Tak heran banyak istilah ‘romantis’ yang dilontarkan Sarjono untuk menunjukkan kepuasan kemitraan yang terjalin mesra selama ini. Sebut saja misalnya, ‘’Pagar Mangkok lebih kokoh dibanding Pagar Tembok’’ juga istilah ‘’Simpony yang Indah’’ ini menggambarkan bagaimana Sarjono dari rekan petani lainnya mendapat berkah dengan hadirnya GGF.

Bagi Sarjono, dari bukan siapa-siapa dan belum menjadi apa-apa, kini sudah memahami bagaimana membangun usaha kelompok ternak yang berkualitas pada akhirnya menaikkan semangat kewirausahaan untuk kemakmuran serta merdeka secara finansial.

Menurut Sarjono, sejak 1992 awal bermitra melalui kelompok petani, di desa mereka selama ini hanya mengandalkan sektor pertanian. Tapi kini sudah menghasilkan pertambahan value dari sektor peternakan khususnya pengemukan sapi.

Bahkan pada 2009, dilanjutkan generasi kedua yaitu kelompok Limousin dengan anggotanya 16 orang. Populasi sapi saat itu ada 150 ekor dengan pola kemitraan pirswadana dengan dukungan dana dari perbankan.

Sarjono mengaku, alasan bermitra didasari ikatan emosional sangat kuat sejak berdirinya PT Great Giant Livestok (GGL) di kampung mereka. ‘’Pola kemitraanya, GGL menjamin pasar memberikan fasilitas dan permodalan berupa manjemen, pakan, obat-obatan serta jaminan pemasaran,’’ ujarnya.

Untuk pola penggemukan sapi antara 4-5 bulan telah memiliki fasilitas sesuai standar. Disamping itu, mitra harus bersedia mengikuti aturan atau model yang telah disepakati. Untuk melindungi petani dilengkapi dokumen pendukung seperti KTP, NPWP dan buku rekening untuk pembayaran.

Nilai tambah lain dari kemitraan GGL ini, pakan ternak dari limbah kulit nanas yang telah diproses dan dihaluskan diterima petani selama pemeliharaan secara bertahap untuk konsumsi bagi 30-40 ekor/hari. Pakan konsentrat 5-6 Kg/hari dan makanan pendukung soya bean meal (SBM) atau bungkil kedelai dengan dosis tertentu. Dengan harapan, pertumbuhan sapi bisa mencapai minimal 0,8 sampai 1 Kg lebih perhari.

Keberhasilan ini, menjadi inspirasi pada masyarakat sekitar. Dampak positifnya, usaha ternak sapi yang tadinya kurang diminati dan dianggap kurang prestisius dan sebagai usaha sampingan. Sekarang sudah diminat dan didukung anak-anak muda yang memang bekerja untuk bersama-sama menciptakan lapangan kerja di desa.

Lantas bagaimana keberhasilan, Great Giant Food (GGF) sebagai perusahaan menjalin kemitraan dengan masyarakat khususnya desa penyanggah.

Penjelasan menarik disampaikan Gilang M Nugraha, Junior Manager Sustainability GGF. Menurutnya, ada alasan khusus GGF membangun sosial ekonomi masyarakat dengan pola kemitraan. ‘’Lokasi strategis GGF sendiri di Lampung dikelilingi sekitar 50 desa sebagai mitra. Pola kemitraan sangat kuat dengan masyarakat sekitar,’’ ujar pria berkacamata ini.

Lihat Juga  Berdedikasi Kembangkan Tata Kelola, Risiko, dan Kepatuhan di Indonesia, Direktur Utama PLN Raih Lifetime Achievement

Plantation GGF memiliki luas 34 ribu hektare selain kebun buah juga mempunyai peternakan sapi perah dan sapi daging berikut produk turunan. Lokasinya di Lampung Tengah, plantation sekitar 30 ribu hektare dan di Lampung Timur sekitar 4000 hektare. Sementara di Tanggamus adalah kebun petani sebagai mitra dengan membudidayakan komoditas tertentu yang akan dibeli oleh GGF. Produknya sudah ekspor seperti nanas kalengan ke berbagai negara Asia Pasifik seperti Jepang, China, Singapura dan lainnya.

Apa sih yang sudah GGF yang sudah lakukan dan kenapa melakukan pola kemitraan ini? Gilang Nugraha menjelaskan, GGF mengubah mindset masyarakat terhadap Corporate Social Responsibility (CSR) menjadi lebih produktif. ‘’CSR selama ini upaya perusahaan membantu masyarakat sekitar. Juga ada istilah filantrofi yakni bantuan terhadap yayasan-yayasan dan lainnya,’’ ujarnya.

Nah, GGF sendiri mengintegrasikan value sustainability terhadap bisnis strategi. Dalam artian, untuk menyelesaikan masalah sosial yang ada di lingkungan di Lampung maupun Indonesia secara holistik dan bagaimana diintegrasikan kepada bisnis agar bisa berjalan bersamaan.

Dengan kata lain, tak hanya menjadikan CSR sebagai ajang filantropi atau memberikan dana natural kepada masyarakat. Tapi ingin membangun masyarakat yang mandiri dengan pola kemitraan dan pengembangan bisnis yang bisa dilakukan bersama dengan masyarakat.

Ditegaskan Gilang Nugraha, melalui visi Nourishing people’s live with quality food produced in sustainable and innovative way. Ada tiga pilar yang menjadi andalan GGF yakni, Great Lives yakni produk GGF mengutamakan produk yang sehat, Great People berkomitmen bertanggungjawab dan menjamin kesejahteraan karyawan dan warga sekitar.

Serta Great World komitmen terhadap lingkungan. Semua produk menghasilkan sampah dan akan re-new energi menjadi kompos di kebun sendiri untuk diolah kembali. Tiga integrasi inilah yang menjadi andalan GGF dalam menjalankan pola circular model.

GGF juga mereplikasi circular model ke masyarakat sekitar atau komunitas.  Pola yang dikembangkan GGF adalah Greating Share Value yakni memadukan kebutuhan sosial dengan kesempatan bisnis yang ada dengan kemampuan aset perusahaan seperti tenaga skil dan penguasaan pasar. Tujuannya untuk menaikkan taraf ekonomi dan juga sejahterakan masyarakat di sekitar.

‘’Semua pola kemitraan di GGF dengan masyarakat, intinya GGF ingin berkembang bersama masyarakat. Bukan hanya memberikan donasi tetapi juga menjadikan masyarakat mandiri secara ekonomi,’’ tegas Gilang.

Kendala selama ini, bagaimana GGF mencoba mengubah value chain atau rantai tataniaga yang sangat panjang. Seperti melatih petani memberikan bibit berkualitas dan standar budidaya yang tepat serta kepastian pasar. Hasilnya cukup menarik pola kemitraan ini bisa meningkatkan income petani sampai tiga kali lipat dibanding sebelumnya.

Contohnya, dari beberapa produk olahan dari buah yang tidak dipakai. Ibu-ibu warga sekitar yang sudah dibina di Lampung Timur dan Lampung Tengah memanfaatkan kemitraan tersebut dengan memanfaatkan bahan baku pisang cavendish yang tidak pakai dan hasilnya, diproyeksi mendukung citra pasar oleh-oleh khas Lampung.

Rantai tata niaga lainnya, adalah kemitraan peternakan sapi. Perusahaan yang mengelola yakni Great Giant Livestock (GGL). Pola penggemukan sapi memanfaatkan campuran pakan dari sisa limbah buah yang menjadi core bisnis perusahaan. Model ini sudah diimplementasikan secara praktis dengan petani, Great Giant Livestock sudah mempunyai lebih dari 500 petani binaan yang dilakukan sejak tahun 1990-an.

Lihat Juga  Perekaman Biometrik untuk Visa Haji Ditunda

Diharapkan kemitraan sapi ini tak hanya memberikan filantropi atau donasi tapi pola-pola yang ingin implementasikan sama-sama diuntungkan. Dalam praktiknya, bisa menyelesaikan masalah sosial ditengah masyarakat.

Penjelasan lebih gamblang lagi diungkap Vera Monica, Head of Departement Local Sourching PT Sewu Segar Nusantara (SSN). Sejak berdiri 1995, sebagai ujung tombak holding SSN memiliki konsep Creating Shared Value Concept Sewu Segar, untuk bermitra dengan petani, ada tiga dasar yaitu kebutuhan sosial, sisi bisnis yang harus dikembangkan, dan coporate asset.

Melalui visi dan misi, To Make People Healthy by Providing Accesibility to Quality Food, SSN mengajak orang sehat dengan akses mudah mendapatkan buah-buah yang berkualitas. Caranya, ujar Vera lagi, dengan membangun sustainability untuk meningkatkan value. Perusahaan tidak lepas tangan begitu saja tapi juga ikut membangun bersama untuk kemajuan lebih baik.

Melalui kemitraan dibangun komunitas sosial di masyarakat petani sekitar dengan mengembangkan berbagai varian produk. ‘’Polanya mengembangkan potensi yang sudah dimiliki petani yakni develop existing plantation dan mengembangkan new plantation yang belum dimiliki petani,’’ tambah Vera lagi.

Lantas apa yang menjadi keuntungan dari kemitraan ini, SSN sebagai partner yang dipercaya karena memiliki tenaga ahli yang kompetensi bidang penanaman tanaman buah-buahan. Juga akses perbankan dan global market karena menyasar pasar ekspor.

Petani mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan income lebih baik dengan meningkatnya produktivitas dan memberikan harga yang dapat bersaing di pasaran. Sehingga mereka tidak perlu khawatir untuk masalah penjualan dari hasil produksi. Dari sisi SSN, Sunpride sebagai bahan baku memiliki sekuritas/jaminan di bidang suplai. Sehingga ada kontinuitas kepada mitra toko dan pasokan jaringan luas di tradisional market.

Untuk mendukung produk petani SSN membangun packing house di beberapa tempat yang untuk memudahkan para petani bisa langsung masuk ke customer yang sudah berjalan 2-3 tahun, sehingga produk petani lebih fresh ke mitra toko. Kemitraan ini sudah dikembangkan di Jombang Jawa Timur untuk pengembangan pisang emas dan buah melon dengan berbagai variannya.

Untuk buah jeruk ada di Batu Malang suplay minimum 10 ton perminggu, juga pepaya bermitra dibeberapa daerah di Lampung, Sukabumi, Cianjur Jawa Barat. Hingga menjangkau Jawa Tengah (Sleman), Jawa Timur seperti di daerah Jombang, Mojokerto, Jember.

Pemasarannya buah dari SSN sudah distribusikan ke modern market seperti Hypermart maupun supermarket, buah hasil yang dihasilkan oleh petani petani. Mitra pasar tradisional juga cukup banyak mencapai 1000 lapak atau kios untuk menjual sampai ke end customer.

Sebagai penutup, sistem perencanaan, pelaksanaan program, pengaturan anggaran, dan kebijakan yang dibangun GGF sudah terintegrasi baik dengan lingkungan internal dan eksternal perusahaan.

Jelas ini menjadi efek domino strategis dan menjadi sangat penting bagi keberlanjutan perusahaan. Keterkaitan satu divisi dengan divisi lain tak terpisahkan. Masing-masing bersinergi untuk menentukan kehidupan jangka panjang perusahaan yang terangkum dalam satu visi dan misi bersama.

Kendala kemampuan perusahaan terhadap ketersediaan sumber daya. Serta kemampuan perusahaan menganalisis isu strategis eksternal mampu diatasi dengan baik. Pada akhirnya, perusahaan mampu take off dan berkompetisi ditingkat global dengan membawa serta seluruh stakeholder untuk maju dan berkembang bersama. Selamat dan sukses untuk GGF. (***)

Penulis : Kawar dante

 

 

 

 

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close