PALEMBANG

Kereta Api Ringan (LRT) Palembang Mulai Ditinggalkan Warga

MataPublik.co, PALEMBANG – Operasional kereta api ringan (LRT) Palembang mulai ditinggalkan oleh masyarakat. Moda transportasi berbasis rel ini tidak jadi pilihan karena tidak efisien secara waktu dan rute tujuan. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, hingga kini okupansi LRT di kota itu masih sangat kecil. Persentasenya bahkan di bawah 30 persen meskipun ia telah memberi subsidi Rp 300 miliar per tahun.

Mahasiswa menjadi sasaran utama pemerintah. Kalangan ini diberi subsidi hingga Rp 7.000 dari tarif normal Rp 15 ribu. Namun, upaya tersebut belum bisa mendongkrak potensi penumpang. Rute yang dibangun dari Kompleks Olahraga Jaka Baring hingga Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II ini diklaim masih bersinggungan dengan jalan nasional. “Lintasan LRT masih tumpang tindih dan sejajar dengan angkutan umum lain,” kata Budi Karya di Jakarta, Rabu (17/4).

Padahal, kata dia, Jalan Sudirman tempat berdirinya lintasan LRT kerap macet saat hari sibuk. Oleh karena itu, ia akan membuat kebijakan rekonstruksi lintasan transportasi agar LRT Palembang bisa diandalkan.

Lihat Juga  Wawako Fitrianti Bantu Modal Usaha Warga Tidak Mampu

Budi Karya mengatakan, ada beberapa hal teknis yang perlu dioptimalkan. Misalnya waktu tempuh dan waktu tunggu kedatangan antar LRT. Menurut dia, ekspektasi masyarakat terhadap waktu tempuh perjalanan LRT bisa lebih cepat.

Pertama, waktu tempuh perjalanan yang selama ini 1 jam akan dimaksimalkan menjadi sekitar 45 menit. Kedua, tunggu kedatangan antarkereta dipersingkat menjadi 15 menit dari sebelumnya 48 menit. “Total waktu yang dihabiskan mulai dari menunggu kedatangan kereta sampai perjalanan tidak lebih dari satu jam,” ujarnya.

Pengamat Transportasi dari Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang Djoko Serijowarno menilai, rute LRT Palembang tidak efisien. Persoalannya pemerintah tidak menyentuh wilayah permukiman warga, letak perkantoran juga tidak tersentuh jalur LRT.

Ia menjelaskan, dari wilayah permukiman Jalan Alang-alang Lebar dekat terminal tipe A arah Jambi ke Pasar 16 Ilir sudah dilayani oleh angkutan umum. Penumpang sangat riskan naik LRT karena jadwal perjalanan tidak sesuai dengan aktivitas warga. “Masih banyak jalan yang nggak berimpitan, tapi belum tergarap,” katanya.

Lihat Juga  Pol PP Tertibkan Pengepul di TPA Sukawinatan

Di sisi lain, frekuensi perjalanan juga menjadi soal. Jika masyarakat yang menggunakan bus dengan waktu tunggu paling lama 10 menit, LRT bisa lebih dari 25 menit. Iitu pun belum ada kereta.

Menurut Djoko, saat pembangunan infrastruktur berlangsung pemerintah belum menyiapkan sarana yang mencukupi kebutuhan. “Jadi, nggak bisa beroperasi sampai malam juga,” ujarnya.

Sebagai jalan keluar, ia merekomendasikan pemerintah memindahkan wilayah perkantoran ke Jakabaring. Antara lain, Kantor Dinas Perhubungan (Dishub) dan Kantor Gubernur agar Aparatur Sipil Negara (ASN) bisa menggunakan LRT untuk aktivitas kerja. “Rutenya juga harus mencapai semua wilayah. Dari perumahan yang baru tumbuh dilayani angkutan umum yang terkoneksi dengan LRT,” kata Djoko. (jhf)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button