OPINI

Kota yang Nyaman Adalah Kota yang Bebas dari Kemacetan

Dampak kemacetan ini tidak hanya dirasakan oleh masyarakat sekitar jalan raya, tetapi tentu juga pengguna jalan

Oleh:  Faizah Anbar Sari

Jurusan Ilmu Komunikasi

FISIP UIN Raden Fatah Palembang 

Alat transportasi merupakan permintaan turunan yang artinya kebutuhan terhadap transportasi berasal dari kebutuhan terhadap pergerakan masyarakatnya. Tingginya pergerakan masyarakat menunjukan tingginya aktivitas ekonomi. Pergerakan bisa dilihat dari adanya perpindahan masyarakat untuk bekerja, sekolah, melakukan distribusi barang logistik, dll.

Di negara-negara berkembang, permasalahan kemacetan sendiri disebabkan oleh banyak hal. Pendapatan rendah, urbanisasi yang sangat cepat, terbatasnya sumber daya, khususnya dana, kualitas dan kuantitas data yang berkaitan dengan transportasi, kualitas sumber daya manusia, tingkat disiplin yang rendah, dan lemahnya sistem perencanaan dan kontrol membuat permasalahan transportasi menjadi semakin parah.

Macet memang saat ini sudah dimana-mana. Banyaknya kendaraan-kendaraan berlalu lalang dijalan memadati jalan setiap kota, khususnya di kota Palembang sendiri. Polusi asap knalpot setiap harinya telah sering kita nikmati, apalagi pada saat pagi dan sore hari, yang mana di kedua waktu itu memang jam nya orang-orang pergi dan pulang kerja. Tak heran juga bila di Palembang ini kian semakin macet karena terjadinya pembangunan kereta rel ringan atau Light Rail Transit (LRT).

Terlebih lagi juga angkutan-angkutan umum sekarang yang sangat jarang warga kota yang enggan naik, dikarenakan sekarang ini banyaknya fasilitas-fasilitas yang lebih memumpuni untuk dinaiki. Misalnya saja Light Rail Transit (LRT) ini yang merupakan salah satu alternatif angkutan yang ditawarkan pemerintah dengan fasilitas yang memadai.

Ada pula transportasi seperti ojek online yang juga bisa menyebabkankemacetan.  Transportasi online ini,    sangat diminati oleh para warga yang merupakan salah satu alternatif juga bagi para warga yang dapat diakses dengan mudah dan cepat untuk dapat menemukan angkutan pada era digital saat ini. Tak perlu bersusah payah lagi untuk menunggu angkutan umum datang, dengan menggunakan aplikasi tersebut, ojek online yang kita pesan pun akan segera tiba.

Lihat Juga  Polemik Pembahasan APBD Sumsel 2020, Antara Urgensi dan Kepentingan

Tapi sebenarnya, ini juga merupakan salah satu yang memicu kemacetan. Dikarenakan hampir setiap detik, menit, jam, bahkan setiap hari sudut kota ini selalu di hantui kemacetan yang tak henti-henti, volume kendaraan yang semakin meningkat baik dari kendaraan roda dua maupun roda empat. Tak sedikit dari pengguna jalan harus merasakan ketidaknyamanan dalam perjalanan yang membuat aktivitas kota ini terhambat.

Para aparat keamanan atau polisi lalu lintas nampak tidak terlihat setiap kali kemacetan itu terjadi, seakan-akan mereka hanya memandang sebelah mata hal ini, bahkan tak sedikit traffic light yang tak berfungsi. Siapa yang mesti bertanggung jawab dalam hal ini di saat warga kota harus teriak merasakan kemacetan yang berlangsung setiap hari di tiap sudut kota ini.

Di samping itu untuk mengurangi angka kemacetan tiap harinya warga kota yang menjadi pengguna jalan harus sadar dan menaati rambu-rambu lalu lintas sebab sebagian dari kemacetan disebabkan oleh pengguna jalan itu sendiri.

Dampak kemacetan ini tidak hanya dirasakan oleh masyarakat sekitar jalan raya, tetapi tentu juga pengguna jalan. Polusi, baik itu polusi udara maupun polusi suara ikut berkontribusi didalamnya. Bisa dibayangkan apa yang terjadi jika hal ini terus-menerus terjadi.

Penyakit pernafasan, kanker dan kelainan-kelainan lain akibat pencemaran logam pun bisa terjadi. Jika kendaraan dinyalakan dalam keadaan diam/tidak bergerak, kendaraan akan mengeluarkan gas-gas beracun akibat pembakaran yang tidak sempurna, apalagi kemacetan yang sangat padat, pasti akan menimbulkan akumulasi gas-gas beracun yang dihasilkan.

Keadaan ini akan memicu penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut), memicu kanker otak, menuruknan fungsi otak, bahkan kematian. Faktor penyumbang perlambatan pertama, yaitu kapasitas jalan yang tidak memadai. Kepadatan arus lalu lintas tidak pernah dipikirkan berapa persentase  over kapasitas di jalur tersebut.

Lihat Juga  Seluruh Kopertis Dibubarkan – Menjadi L2DIKTI

Tapi setidaknya, dengan dibangunkannya LRT di kota Palembang ini, menjadi salah satu solusi untuk menyikapi persoalan kemacetan di Palembang saat ini. LRT ini bukan hanya sekedar transportasi, tetapi sebagai solusi kemacetan yang ada di Kota Palembang saat ini. Infrastruktur dari penggunaannya, harus disiplin menjaga kebersihan dan antrian. Kita bangga karena kita yang pertama di Indonesia miliki LRT.

Solusi lain yang dapat dilakukan pemerintah adalah dengan memaksimalkan pemerataan pendidikan. Setiap sekolah dibuat dengan fasilitas yang sama agar pelajar dapat menuntut ilmu di sekolah terdekat. Pemerataan pembangunan harus dilakukan agar tidak ada lagi ketimpangan sehingga masyarakat beramai-ramai mencari nafkah di sana. Namun ini adalah solusi jangka panjang.

Diperlukan kerjasama antar pemangku kebijakan, pemerintah pusat dan pemerintah daerah, serta pemahaman secara teknis terhadap masyarakat dan kotanya. Koordinasi pemerintah daerah dan pemerintah pusat harus lebih kuat.

Sebab banyak sekali kebijakan yang tidak bisa dilakukan oleh pemerintah daerah untuk mengurangi kemacetan di daerahnya seperti kebijakan mempersulit kredit kendaraan, meningkatkan pajak, dan kebijakan lainnya yang dapat mengurangi jumlah kendaraan pribadi di jalan raya.

Kesimpulannya pemerintah kota maupun instansi-instansi, khususnya sekali di kota Palembang saat ini yang terkait harus sadar dalam tugas dan wewenangnya sebagai contoh masyarakat atau warga kota dalam hal ini harus ikut membantu pihak terkait dalam mengurangi angka kemacetan di kota kita tercinta sebagai kota Bersih, Aman, Rapi dan Indah.

 

 

MataPublik.co

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button