INTERNATIONAL

Pendaki Asal Inggris Tewas Setelah Capai Puncak Everest

MataPublik.co, KATHMANDU – Pendaki Inggris Robin Fisher meninggal dunia setelah berhasil mencapai puncak Gunung Everest. Pria 44 tahun itu tiba di puncak pada Sabtu (25/5) pagi. Dia bertolak turun dan pingsan setelah berjalan sejauh 150 meter.

Sherpa, sebutan untuk pemandu dari suku setempat, berusaha membuatnya siuman dengan oksigen dan air, tetapi gagal. “Para pemandu kami berusaha menolongnya tapi dia meninggal dunia tidak lama setelahnya,” kata Murari Sharma dari Everest Parivar Expedition, Ahad (26/5).

Fisher adalah salah satu dari 10 pendaki yang meninggal dunia selama beberapa pekan terakhir. Korban jiwa lain yang berpulang pada pendakian musim semi ini antara lain dari India, Utah, Austria, Irlandia, serta seorang pemandu Nepal.

Sebagian pemandu menduga banyaknya korban jiwa turut dipengaruhi kondisi Everest yang padat pendaki musim ini. Ada 381 pendaki yang mendapat izin menuju puncak, sehingga harus mengantre di sejumlah titik sebelum mencapai Everest yang setinggi 8.848 meter.

Salah satu lokasi menunggu ada di area setinggi 7.985 meter di atas permukaan laut (mdpl) bernama Death Zone. Sherpa bernama Tshering Jangbu mengatakan, ‘kemacetan’ di musim ini adalah yang paling parah selama dia mendampingi pendaki ke puncak.

“Sebagian besar pendaki yang naik ke puncak tanpa suplemen botol oksigen ekstra tampak paling menderita. Mereka menderita karena kemacetan yang ada, bukan karena angin dan udara dingin,” kata Jangbu.

Direktur Jenderal Departemen Pariwisata Nepal Danduraj Ghimire menolak klaim bahwa kepadatan membuat pendakian lebih berbahaya. Menurut dia, kondisi padat pada April dan Mei adalah hal biasa. Tercatat 600 orang (termasuk pemandu) yang naik per 24 Mei. “Faktornya bukan karena kemacetan itu. Jumlah pendaki agak tinggi tahun ini karena sebagian besar orang ingin mendaki dalam jendela cuaca pendek,” kata Ghimire, dikutip dari laman Fox News.

Lihat Juga  Belgia Cukur Inggris 2-0 Tanpa Balas

Sepanjang 2019, total jumlah korban jiwa pendakian Everest berjumlah 17 orang. Angka itu menjadi rekor terburuk dalam beberapa dekade, setelah memperhitungkan penyebab kematian seperti longsoran salju dan gempa bumi.

Sebelumnya, dua pendaki gunung tewas di Puncak Everest. Kematian terjadi setelah kerumunan orang terjebak dalam antrean yang mengarah ke puncak gunung tertinggi di dunia.

Pendaki India, Anjali Kulkarni (55 tahun), meninggal dalam perjalanan kembali dari pendakian ke puncak Gunung Everest pada Rabu (22/5), menurut putranya Shantanu Kulkarni. Dilansir di CNN, Sabtu (25/5), disebutkan Kulkarni terjebak dalam kemacetan di atas kamp empat pada ketinggian 8.000 meter. Itu adalah kamp terakhir sebelum puncak.

Menurut Shantanu Kulkarni, ibunya telah melakukan perjalanan selama lebih dari 25 tahun dan telah dilatih untuk mendaki Gunung Everest selama enam tahun terakhir. Dia telah menyelesaikan sejumlah perjalanan besar, termasuk Gunung Elbrus di Rusia selatan dan Gunung Kilimanjaro di Tanzania. Dia juga seorang pelari maraton yang rajin.

Anjali Kulkarni memiliki agen periklanan bersama suaminya. “Tetapi mereka berdua pensiun untuk mengejar impian mereka untuk berdiri di puncak Gunung Everest,” kata Shantanu.

Pendaki gunung Amerika Donald Lynn Cash (55 tahun), juga meninggal pada Rabu setelah pingsan karena penyakit ketinggian saat turun dari puncak, menurut perusahaan ekspedisi Nepal Pioneer Adventure Pvt Ltd. Foto-foto yang diambil pada 22 Mei 2019 dan dirilis oleh pendaki Proyek Ekspedisi Nirmal Purja menunjukkan lalu lintas padat para pendaki gunung yang berdiri untuk menuju puncak Gunung Everest.

Lihat Juga  Kiper Rusia Igor Akinfeev Tampil Spektakuler

Pendaki Nirmal Purja memposting gambar di Instagram lalu lintas manusia yang padat di gunung itu pada Rabu, menunjukkan jejak padat pendaki yang berkerumun di punggung bukit yang terbuka ke puncak. Dia menambahkan bahwa ada sekitar 320 orang dalam antrian ke puncak gunung di area yang dikenal sebagai “zona kematian.”

Danduraj Ghimire, direktur jenderal Departemen Pariwisata Nepal, menolak dugaan bahwa kemacetan pendaki berkontribusi pada kematian, menyebut klaim tersebut tidak berdasar. Puncak Gunung Everest memiliki ketinggian 8.848 meter. Pada tingkat itu, setiap napas hanya mengandung sepertiga oksigen yang ditemukan di permukaan laut.

Tubuh manusia juga cepat memburuk pada ketinggian itu, yang berarti kebanyakan orang dapat menghabiskan hanya beberapa menit di atas, tanpa pasokan oksigen tambahan, sebelum menjadi tak tertahankan. “Cuaca belum terlalu bagus pada musim pendakian ini, jadi ketika ada tanda kecil ketika cuaca cerah, pendaki bergerak,” kata Ghimire.

“Pada 22 Mei, setelah beberapa hari cuaca buruk, ada tanda kecil cuaca cerah, ketika lebih dari 200 pendaki gunung naik ke Everest. Penyebab utama kematian di Everest adalah penyakit ketinggian yang terjadi pada sebagian besar pendaki yang kehilangan nyawa mereka musim ini juga,” tambahnya. (ikm)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button