Pemindahan Ibukota Cuma Pengalihan Isu Kecurangan Pemilu 2019
MataPublik.co, JAKARTA – Mencuatnya wacana untuk memindahkan ibukota tak lain adalah upaya mengalihkan isu. Khususnya isu kecurangan Pemilu yang dilakukan masif sejak usai Pemilu 2019 lalu.
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo atau Jokowi telah memutuskan ibu kota pindah ke luar Jawa. Namun, hingga saat ini pemerintah belum mengungkap lokasi ibu kota baru. Pemerintah memiliki sejumlah alasan di balik rencana pemindahan ibu kota tersebut, misalnya sebagai salah satu langkah pemerataan pembangunan di Indonesia. Selain itu, beban Jakarta dianggap sudah terlalu besar sebagai pusat pemerintahan dan bisnis.
Staf Khusus Presiden, Ahmad Erani Yustika, mengatakan inefisiensi yang terjadi pada Jakarta diperkirakan bisa menyentuh Rp 100 triliun per tahun. Hal ini tentu tak bisa dibiarkan terus berlanjut.
“Di Jakarta inefisiensi akibat kemacetan saja, termasuk polusi dan seterusnya, itu Rp 80-100 triliun setiap tahunnya. Pemborosan itu sudah bukan masanya lagi bagi kita untuk mengkompromi. Akan lebih murah bila anggaran itu dipakai untuk pemindahan ibu kota dan program lain,” kata dia, saat ditemui, di Jakarta, Sabtu (4/5). “Ini harus dibaca sebagai salah satu upaya untuk proses pemerataan pembangunan dan beban dari Jakarta itu,” lanjut dia.
Dia menjelaskan agar hal yang sama tidak kembali terulang, maka ibu kota akan dirancang hanya sebagai pusat pemerintahan, tanpa bercampur dengan pusat-pusat kegiatan bisnis.
“Harapannya ketika ibu kota berpindah, maka ruang-ruang ekonomi akan terbuka tapi tidak di lokasi. Karena di lokasi ibu kota yang baru sudah dibikin zonasi, tidak akan lagi dibikin tumpang tindih antara beban pemerintah dan beban bisnis. Itu di daerah-daerah sekitarnya bukan di ibu kota,” jelas dia.
Kegiatan ekonomi masyarakat, tentu akan tumbuh seiring dengan kehadiran ibu kota baru. Namun, kegiatan ekonomi dan bisnis akan terjadi di sekitar ibu kota baru. “Yang paling pokok adalah itu pengembangan ekonomi daerah sekitar itu mencukupi lebih dalam konteks mencukupi kebutuhan warga yang ada di situ. Pengembangan ekonomi industri seterusnya pasti tidak akan bercampur dengan wilayah tadi,” ujarnya.
“Pergerakan itu kita harapkan memiliki pantulan lebih luas untuk Indonesia Timur secara keseluruhan, kalau memang nanti keputusan ibu kota pindah adalah di luar Jawa dan Sumatera,” tandasnya. (bim)